Idhul adha 2010 atau 1231 Hijriyah di Gunung Tembak ada yang berbeda dengan kelaziman yang biasanya terjadi sebelumnya. Perbedaan ini bukan dalam arti negatif tapi sebagai dinamika sebuah perubahan dan pembaharuan. perubahan itu diantaranya :
- Imam tetap bapak pimpinan Ust. Abdurrahman Muhammad tapi khatib Ust. Sarbini Nasir.
- Pembaca sambutan walikota yang biasanya dibaca oleh bapak Sugiono sebegai kepala kampus tapi idul adha ini dibacakan oleh Suardin Zalukhu mahasiswa semester 7.
- Tempat penyembelihan hewan kurban biasanya berada di kawasan asrama putri tapi tahun ini di tanah tengah danau kedua.
- Sudah mulai banyak warga Hidayatullah yang berkurban, menurut ust. Khairul amri ada sekitar 60 warga yang berkurban tahun ini. Artinya ini positif menunjukkan kesadaran dan peningkatan ekonomi warga.
Panitia kurban dikomandani oleh bapak sugiono dan dibantu oleh personel keamanan dan tukang-tukang yang berpengalaman.
Jumlah hewan kurban ada 28 ekor sapi dan 17 ekor kambing. Jumlah ini masih ada kemungkinan terus bertambah karena biasanya ada kiriman dari cabang Bontang, samarinda dan jamaah yang ada di kota. Warga semua mendapatkan jatah daging dengan ukuran merata, kalau ada banyak maka diabgikan kepada masyarakat sekitar pesantren.
Bagaimana dengan santri?
Pembelajaran di kelas diliburkan selama 4 hari yaitu hari Idul adha plus 3 hari tasyrik. Meski demikian mereka ada beberapa kegiatan non formal yang dikawal oleh pengasuh bagi santri Mts dan aliyah dan BEM untuk mahasiswa. Di Putri juga demikian adanya.
Mereka tetap mendapatkan jatah daging kurban tapi dikelola oleh dapur. Hari pertama mungkin belum menikmati karena baru disembelih dan belum sempat dimasak oleh ibu-ibu dapur. Merasakan kuah, gajih dan tulang sapi atau kambing sudah menjadi keistimewaan menu di dapur, akrena hari-hari biasanya hanya tempe, tahun dan ikan layang. Lebih beruntung lagi kalau ada warga yang mengundang makan di rumahnya dengan menu daging kurban. Ini tentu tinggal menunggu doa dan nasibnya saja.
Jumlah hewan kurban tidak seperti dulu lagi yang berjumlah puluhan sehingga santri bisa menikmati dengan puas. Meski demikian, santri tetap bersyukur sebab yang esensi bukan makan daging kurban tapi menumbuhkan jiwa-jiwa yang siap berkurban untuk Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh keluarga Nabiyullah Ibrahim as.
Baca juga yang ini :
- Buletin Baru STIS Hidayatullah
- Kebijakan HP
- Penasehat Akademik
- Rekrutmen Dosen baru STIS Hidayatullah
- Wajah Baru Kampus STIS Hidayatullah Putri
naya
22 November 2010 - 07:36:11 WIB
wah..ternyata menu sapi dkk, begitu istimewa ya..coba bisa potong sapi tiap hari, hehe. tapi, masa sih..hari2 biasa cuman menu tempe,tahu,n ikan layang? lupa ya sama teman2nya layang? tembang, teri etc. hehe.
tapi sebenarnya, mrk istimewa juga lho! hanya karna sudah terbiasa,kita g bs merasakannya lagi.coba klo makan sapi every day, masih terasa gak istimewanya? tapi, ada resep yang bisa membuat menu tetap terasa istimewa meski tlah terbiasa,yaitu bersyukur.tapi, kadang resepnya jd g manjur, karna kita kerap menganggap biasa2 aja. bagi saya, dunia dan seisinya begitu menakjubkan, terma**k tempe, tahu dan ikan layangnya.
22 November 2010 - 07:36:11 WIB
wah..ternyata menu sapi dkk, begitu istimewa ya..coba bisa potong sapi tiap hari, hehe. tapi, masa sih..hari2 biasa cuman menu tempe,tahu,n ikan layang? lupa ya sama teman2nya layang? tembang, teri etc. hehe.
tapi sebenarnya, mrk istimewa juga lho! hanya karna sudah terbiasa,kita g bs merasakannya lagi.coba klo makan sapi every day, masih terasa gak istimewanya? tapi, ada resep yang bisa membuat menu tetap terasa istimewa meski tlah terbiasa,yaitu bersyukur.tapi, kadang resepnya jd g manjur, karna kita kerap menganggap biasa2 aja. bagi saya, dunia dan seisinya begitu menakjubkan, terma**k tempe, tahu dan ikan layangnya.
Beri Komentar





Pengunjung hari ini : 14
Total pengunjung : 34067
Pengunjung Online: 6


