Baca juga yang ini :
- Kajian Kitab di Masjid ar-Riyadh
- Polemik Idul Adha 2010
- Yang Berbeda dI Idul Adha Gunung Tembak 2010
- Buletin Baru STIS Hidayatullah
- Kebijakan HP
si Bon
19 Februari 2012 - 19:50:40 WIB
Yang jelas 20 tahun ke depan PNS akan tersenyum bahagia karena masa tua terjamin, ada pensiunan, askes, sudah bangun rumah, motor sudah ganti yang terbaru, anak-anak sekolah terjamin setinggi-tingginya . sementara non PNS akan gigit jari, tidak lagi dipakai oleh lembaga kayak besi tua, rumah belum terbangun, motor buntut, tak ada tunjangan hari tua, anak-anak tidak jelas sekolahnya. Itu kalau umur sampai tua,selamat Para PNS dengan segalanya
19 Februari 2012 - 19:50:40 WIB
Yang jelas 20 tahun ke depan PNS akan tersenyum bahagia karena masa tua terjamin, ada pensiunan, askes, sudah bangun rumah, motor sudah ganti yang terbaru, anak-anak sekolah terjamin setinggi-tingginya . sementara non PNS akan gigit jari, tidak lagi dipakai oleh lembaga kayak besi tua, rumah belum terbangun, motor buntut, tak ada tunjangan hari tua, anak-anak tidak jelas sekolahnya. Itu kalau umur sampai tua,selamat Para PNS dengan segalanya
hamba Allah
11 Juli 2011 - 18:04:11 WIB
saya pikir ekonomi adalah sesatu yang muskil, jangan menganggap perihal ekonomi hanya sebatas perihal materi, tapi ada subtansi lain 'mengenai kebutuhan". jangan munafik kalo ada ust yang mengajar privat kalo todak ada materi di kepalanya.mungkin perlu di jelaskan pihak yang dirugikan itu siapa saja.perlu diperjelaskan yang menjadi masalah itu berbelok jadi PNS atau justru banyak PNS yang bertebaran itu dipandang sebagai manusia yang bergelimang AIB, lalu bagaimana dengan cabng yang mengandalkan donatur yang sebgaian nya adalah PNS. apa jadinya bila mereka tau mengenai pandangan ini. mana yang munafik???????
11 Juli 2011 - 18:04:11 WIB
saya pikir ekonomi adalah sesatu yang muskil, jangan menganggap perihal ekonomi hanya sebatas perihal materi, tapi ada subtansi lain 'mengenai kebutuhan". jangan munafik kalo ada ust yang mengajar privat kalo todak ada materi di kepalanya.mungkin perlu di jelaskan pihak yang dirugikan itu siapa saja.perlu diperjelaskan yang menjadi masalah itu berbelok jadi PNS atau justru banyak PNS yang bertebaran itu dipandang sebagai manusia yang bergelimang AIB, lalu bagaimana dengan cabng yang mengandalkan donatur yang sebgaian nya adalah PNS. apa jadinya bila mereka tau mengenai pandangan ini. mana yang munafik???????
alumnus
23 November 2010 - 06:28:33 WIB
motivasi ma**k PNS yang paling jelas adalah ekooooooooooonomi. Bungkusnya sih bisa dakwah, tarbiyah, mencerdaskan anak bangsa dll tapi intinya ya ekooooooooooonomi itu. kalau ada alumni stis menggadaikan kekaderannya dengan PNS ya istighfar sejuta kali karena itu menyakitkan semua pihak.
23 November 2010 - 06:28:33 WIB
motivasi ma**k PNS yang paling jelas adalah ekooooooooooonomi. Bungkusnya sih bisa dakwah, tarbiyah, mencerdaskan anak bangsa dll tapi intinya ya ekooooooooooonomi itu. kalau ada alumni stis menggadaikan kekaderannya dengan PNS ya istighfar sejuta kali karena itu menyakitkan semua pihak.
itsar
22 November 2010 - 20:43:15 WIB
Gue ada tambahan info, bukan masalah mendukung dan tidak, namun bisa direnungkan baik-baik.
Sebe narnya PNS dalam konteks negara, sebagai warga negara dan manusia biasa maka tidak ada masalah atau sah-sah saja. Namun dalam konsteks perjuangan yang menuntut adanya totalitas dan pengorbanan maka status PNS tanpa bingkai tugas adalah “aib atau cacat”. Bahkan sebagian ustadz menganggap sebagai “pengkhianat” karena meninggalkan tugas yang telah diamanahkan sebelumnya. Program dakwah dan pendidikan untuk membangun peradaban masih banyak membutuhkan tenaga-tenaga handal, sehingga ketika ada yang tega berbelok, berpaling atau mundur ke belakang maka bisa dikatakan “pengkhianat”.
Salah seorang ustadz mempertanyakan motivasi atau niat kader yang menjadi PNS. Ada yang berniat “dakwah”, pertanyaannya kepada siapa mereka berdakwah? apa materi dakwahnya? Kapan dan bagaimana metodenya?Kalau mau serius berdakwah kenapa harus menjadi PNS?
Kemudian ada juga yang berdalih untuk mengurangi “beban lembaga”. Sebenarnya bukan mengurangi tapi malah menambah beban, lembaga hanya menjadi batu loncatan untuk meniti kariernya. Batu loncatannya (sekolah di pesantren) ditinggalkan begitu saja, sisa-sisa waktu saja diberikan untuk lembaga. Seolah-seolah mengurangi beban tapi sebenarnya menghancurkan lembaga dari dalam karena anak-anak tidak terurus, tambal sulam guru lagi, merekrut lagi, mulai dari awal lagi.
Selanjutn ya ada yang bertujuan untuk ketenangan ibadah. Selama ini merasa tidak tenang shalat, tak bisa berinfak karena gaji hanya sedikit. Intinya sudah lelah “menderita atau miskin.” Dengan gaji besar maka bisa infak lebih, jaminan masa tua bisa menjamin masa depan anak-anak keturunannya. Semestinya dengan kondisi yang sudah mapan dan tidak ada permasalahan duniawi lagi, PNS bisa lebih all out dan maksimal untuk pengabdian kepada agama. Namun sayang, realitanya mereka sibuk untuk membangun istana rumahnya, kredit ganti motornya, melengkapi perabot rumah tangganya. Inilah yang menyebabkan keretakan ukhwah karena kesenjangan yang diciptakannya karena bergaya hidup mewah di tengah kekurangan tetangga kanan kirinya.
22 November 2010 - 20:43:15 WIB
Gue ada tambahan info, bukan masalah mendukung dan tidak, namun bisa direnungkan baik-baik.
Sebe narnya PNS dalam konteks negara, sebagai warga negara dan manusia biasa maka tidak ada masalah atau sah-sah saja. Namun dalam konsteks perjuangan yang menuntut adanya totalitas dan pengorbanan maka status PNS tanpa bingkai tugas adalah “aib atau cacat”. Bahkan sebagian ustadz menganggap sebagai “pengkhianat” karena meninggalkan tugas yang telah diamanahkan sebelumnya. Program dakwah dan pendidikan untuk membangun peradaban masih banyak membutuhkan tenaga-tenaga handal, sehingga ketika ada yang tega berbelok, berpaling atau mundur ke belakang maka bisa dikatakan “pengkhianat”.
Salah seorang ustadz mempertanyakan motivasi atau niat kader yang menjadi PNS. Ada yang berniat “dakwah”, pertanyaannya kepada siapa mereka berdakwah? apa materi dakwahnya? Kapan dan bagaimana metodenya?Kalau mau serius berdakwah kenapa harus menjadi PNS?
Kemudian ada juga yang berdalih untuk mengurangi “beban lembaga”. Sebenarnya bukan mengurangi tapi malah menambah beban, lembaga hanya menjadi batu loncatan untuk meniti kariernya. Batu loncatannya (sekolah di pesantren) ditinggalkan begitu saja, sisa-sisa waktu saja diberikan untuk lembaga. Seolah-seolah mengurangi beban tapi sebenarnya menghancurkan lembaga dari dalam karena anak-anak tidak terurus, tambal sulam guru lagi, merekrut lagi, mulai dari awal lagi.
Selanjutn ya ada yang bertujuan untuk ketenangan ibadah. Selama ini merasa tidak tenang shalat, tak bisa berinfak karena gaji hanya sedikit. Intinya sudah lelah “menderita atau miskin.” Dengan gaji besar maka bisa infak lebih, jaminan masa tua bisa menjamin masa depan anak-anak keturunannya. Semestinya dengan kondisi yang sudah mapan dan tidak ada permasalahan duniawi lagi, PNS bisa lebih all out dan maksimal untuk pengabdian kepada agama. Namun sayang, realitanya mereka sibuk untuk membangun istana rumahnya, kredit ganti motornya, melengkapi perabot rumah tangganya. Inilah yang menyebabkan keretakan ukhwah karena kesenjangan yang diciptakannya karena bergaya hidup mewah di tengah kekurangan tetangga kanan kirinya.
Beri Komentar





Pengunjung hari ini : 14
Total pengunjung : 34067
Pengunjung Online: 6


