Mengambil momentum tahun baru 1432 Hijriyah, Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan melangsungkan wisuda sarjana Strata Satu (S1) periode II (Selasa, 7 Des 10). Sebanyak 52 peserta mengikuti acara tersebut yang terdiri dari angkatan III dan IV STIS Hidayatullah.
Acara yang mengusung tema "Satu Tekad Melahirkan Sarjana Muslim Berkarakter Ulama dan Berjiwa Pemimpin" ini mengambil tempat di Aula Gedung Serbaguna Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri tiga ratus orang. Mereka terdiri dari para wisudawan/wati, dosen, orangtua/ wali wisudawan dan undangan. Dalam deretan undangan tampak hadir Prof DR. H. Akh Fauzi Aseri (Ketua KOPERTAIS XI Kalimantan), Rizal Efendi, SE (Wakil Walikota Balikpapan), dan sejumlah pimpinan Perguruan Tinggi se-Kota Balikpapan.
Acara yang dipandu oleh Iwan Abdullah, S.Sos.I, M.Si ini diawali dengan pembacaan SK Wisuda STIS oleh Arfan, S.S (PK III STIS). Satu persatu para wisudawan yang disebut namanya lalu maju secara bergantian untuk menerima pengalungan lencana dari Ustadz Paryadi, S.Sos.I, M.S.I selaku Ketua STIS Hidayatullah.
Usai pembacaan SK Wisuda, giliran Masykur Suyuti, Lc (Ketua Jurusan STIS) yang membacakan SK Pengukuhan Tugas dari Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah. Para wisudawan mengemban amanah untuk berdakwah di seluruh pelosok nusantara. Mereka tersebar dari ujung barat Pulau Nias, Sumatera Utara hingga Jayapura, Papua.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan nama-nama wisudawan terbaik. Untuk angkatan ke-III, wisudawan terbaik disematkan kepada La Ilman, S.H.I dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,50. Ia mengangkat judul skripsi "Poligami Menurut Musda Mulia". Sedang wisudawan terbaik angkatan ke-IV jatuh pada Zahratun Nahdah, S.H.I (IPK 3,65). Alumnus yang kini menempuh pendidikan Magister di Insitut Ilmu al-Qur'an (IIQ) Ciputat Tangerang ini mengambil judul skripsi "Waris Beda Agama Menurut Nurcholis Madjid".
Ustadz Nashirul Haq, Lc, MA selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya kepada para wisudawan dan wisudawati secara khusus dan STIS secara umum. Pasalnya, Perguruan Tinggi (PT) yang diawali dengan belajar lesehan di masjid ini bisa tetap eksis dan terus melahirkan alumni yang siap pakai dan ditempatkan dimana saja. Apalagi ditengah biaya pendidikan yang semakin mencekik masyarakat, STIS Hidayatullah tetap bertahan menerapkan pendidikan gratis kepada para mahasiswanya. Mulai dari biaya pendidikan, asrama hingga konsumsi sehari-hari, semuanya ditanggung oleh STIS Hidayatullah.
Namun bukan karena gratis lalu kualitas menjadi terabaikan. STIS yang baru saja meraih akreditasi ini terus berbenah dalam peningkatan kualitas alumninya. "Alumni STIS ini khas, unik dan memiliki nilai plus." Ucap Nahshirul, yang juga menjabat Ketua Dewan Syari'ah MUI Balikapapan. Ia beralasan, meski bergelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I), namun alumni STIS juga bisa mengerjakan pekerjaan lain. Ada yang ahli komputer, bakat bertukang, bahkan ada seorang alumnus yang sedang merintis koperasi di daerah tugasnya. "Gelar kesarjanaan di STIS tidak mengikat job seseorang." lanjut ustadz yang meraih gelar Lc di Madinah ini. Hal itu tercapai karena selain belajar formal dikelas, para mahasiswa STIS juga dibekali dengan life skill (keterampilan hidup).
Hidayatullah, S.H.I, dalam sambutan wisudawan, mengungkapkan kebanggaannya menjadi alumni STIS. "Saya bangga dan percaya diri menjadi alumni STIS." Ujar pria berkacamata minus yang saat ini bertugas di Hidayatullah Cikarang, Jawa Barat. Kepercayaan diri itu bukan hiasan bibir saja. Sebab memang terbukti, sarjana STIS siap mengemban tugas dimana saja. Hal itu juga diakui oleh Prof Akh Fauzi Azeri. "Sarjana STIS itu sarjana tahan banting, siap ditugaskan di daerah pelosok dan terpencil." Ungkapnya ketika mengawali orasi ilmiahnya.
Tak heran, hingga angkatan ke-IV para wisudawan STIS tak mengenal kata menganggur. Bahkan 100 persen wisudawan dan wisudawati yang hadir dalam acara ini sudah memiliki tugas dan amanah di tempat tugas mereka masing-masing.
Olehnya, tidak berlebihan jika Rizal Efendi, Wakil Walikota Balikpapan menaruh asa besar di pundak para alumni STIS. Selain menyematkan gelar tambahan "Sarjana Madinatul Iman," Rizal yang hadir dengan setelan safari warna putih mengharap ada pemimpin Madinatul Iman dari STIS "Kalian adalah sarjana Madinatul Iman dan calon pemimpin Madinatul Iman." Harap Rizal di tengah-tengah sambutannya.
Rizal juga menegaskan kehadirannya semata mensupport STIS terkhusus para peserta wisuda yang memang sangat diharapkan turut andil dan berkontribusi dalam mengembalikan peradaban manusia ke jalurnya yang benar.
Ini menjadi tantangan tersendiri bagi STIS ke depan. "Intinya jangan cepat puas dengan dengan apa yang telah dicapai saat ini," pesan Paryadi S.Sos.I, M.S.I selaku ketua STIS Hidayatullah. Bahkan ke depan STIS ini bukan sekedar Sekolah Tinggi tapi diusahakan menjadi universitas." Lanjutnya penuh semangat. Rangkaian prosesi acara lalu ditutup dengan untaian doa yang dibawakan oleh Ustadz Naspi Arsyad, Lc.
Baca juga yang ini :
- Melebur Dosa Dihari Asyura
- Muharam ala Gunung Tembak
- RAPAT SENAT STIS Hidayatullah II
- BANJIR LOKAL
- Mencetak Karakter Luar Biasa Mahasiswa STIS





Pengunjung hari ini : 14
Total pengunjung : 34067
Pengunjung Online: 5


