Menjadi peserta pernikahan mubarakah sangat sederhana yaitu menjadi santri atau pernah belajar di Pesantren Hidayatullah atau aktif di unit usaha ormas Hidayatullah yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Meski demikian, tidak banyak berani atau masuk seleksi menjadi peserta pernikahan mubarakah karena harus ada mental untuk mendaftar atau didaftarkan. Artinya yang bisa menjadi peserta pernikahan ada proses seleksi yang cukup ketat dan tidak sekedar ikut.
Setelah tulisan sebelumnya menerangkan latar belakang pernikahan mubarakah yaitu melawan budaya. Berikut ini, penulis paparkan beberapa tujuan pernikahan mubarakah yaitu ada misi pengkaderan. Artinya sebagai alat ukur kekaderan santri dan sekaligus menikah adalah proses pengkaderan.
Pernikahan mubarakah alat ukur kekaderan santri artinya dengan mengikuti pernikahan maka bisa dilihat kualitas kekaderan santri karena untuk mengikuti pernikahan mubarakah harus siap mental. Kesiapan mental artinya harus siap untuk diatur dan taat dengan segala keputusan yang dipilihkan oleh stering commite. Kalau bukan kader maka sangat sulit untuk bisa menjadi peserta pernikahan mubarakah. Sebab pada umumnya, menikah itu sangat pribadi dan bebas memilih menentukan calon pasangannya.
Kemudian penikahan mubarakah sebagai proses pengkaderan karena setelah menikah, biasanya mereka siap ditugaskan ke daerah-daerah. Alumni pernikahan mubarakah inilah yang menjadi pioner penggerak di daerah-daerah. Jika mereka kader maka akan eksis dan berkembang, namun jika belum bermental kader maka akan lari tunggang langgang ke kampung halamannya. Inilah yang dimaksud proses pengkaderan.
Alumni pernikahan mubarakah bisa eksis di daerah karena berdampingan dengan istri yang kader juga. Istri-istri yang kader, merekalah yang menjadi aktor penting di balik layar keberhasilan dari para aktifis dakwah mengemban amanah dakwah yang sangat berat. Mereka menjadi motivator dan penyejuk hati saat suami mengalami kesulitan, mereka juga bisa menjadi patner untuk diskusi terhadap permasalahan yang dihadapi di medan dakwah karena sudah ada kesamaan idealisme dan fikrah untuk menjalani hidup di jalan dakwah Islam. Mereka juga siap hidup menderita, meski kekurangan harta karena sudah tertempa menjadi santri beberapa tahun di asrama dengan berbagai kesulitan di dalamnya.
Perkembangan ormas Hidayatullah yang sangat pesat di seluruh pelosok tanah air tidak lepas dari peran para istri yang satu visi dalam membina rumah tangga yang islami demi membangun peradaban Islam. Sungguh mustahil para aktifis dakwah Hidayatullah bisa eksis, jika orang yang paling dekat (istri) tidak mendukung atau paham dengan lika-liku dakwah yang terkadang sangat terjal. Jatuhnya para kader dakwah, kebanyakan bermula saat menikah dengan istri yang tidak sesama aktifis dakwah.
Kita bisa berkaca dengan proses pernikahan TNI yang sangat ketat. Harus jelas nasab keturunannya, berpendidikan, sehat jasmani dan ruhani, bermental baja. Aturan TNI sangat ketat karena terkait dengan tugas negara yang sangat berat, kalau istri TNI itu sembarangan maka akansangat mengganggu tugas negara dan bisa membocorkan rahasia negara. Istri TNI harus siap ditinggal pergi beberapa bulan atau tahun untuk tugas negara dan siap mendukung apapun yang menjadi tugas suaminya.
Aktifis dakwah adalah tentara Allah yang mengembang amanah untuk menyebarkan risalah Islam ke masyarakat. Maka sepatutnya aktifis dakwah harus sangat selektif dalam memilih dan menentukan calon pendamping hidup sekaligus partner dakwah di masyarakat.
STIS Hidayatullah adalah perguruan tinggi yang berbasis kader. Dalam hal pernikahan juga sangat ketat dalam rangka menjaga kekaderan dan proses pengkaderan di Hidayatullah. Dalam pernikahan mubarakah 2011 ini sebagian besar adalah alumni STIS Hidayatullah Balikpapan. Istilah mudahnya "kualitas terjamin, harga terjangkau" artinya secara kualitas keagamaan dan akhlaq insyaallah mereka sudah cukup, karena tidak mudah di zaman seperti ini mencari wanita yang mau di pesantren dididik dan diatur sedemikian ketat selama beberapa tahun . Di saat yang sama banyak wanita yang mau hidup bebas berkelana di tempat-tempat hiburan.
"Harga terjangkau", secara materi tidak membutuhkan materi yang banyak untuk bisa ikut pernikahan mubarakah, dibandingkan mempersunting gadis kota, bangsawan yang harga maskawinnya melangit sementara hati belum tentu berorientasi langit (spritual). Awalnya pernikahannya seolah-olah gemerlap dan bahagia tapi seringkali berakhir dengan gelap dan menderita.
Jadi menikah mubarakah adalah sebagai ikhtiar untuk menjaga kekaderan para santri Hidayatullah dalam mengemban amanah dakwah di tempat tugasnya. Maka proses awalnya terasa berat namun ketika Allah mempertemukan dengan pasangan yang atu visi, idealisme dan fikrah maka perjalanan dakwah terasa ringan.
Baca juga yang ini :
- PERNIKAHAN MUBARAKAH PROGRAM MELAWAN BUDAYA
- Sambutan Ketua Penugasan angkatan ke-5
- Penugasan Alumni STIS Hidayatullah Kelima 2011
- Ketika Seorang Kader Menanti Tugas
- PKD STIS 2011
Beri Komentar





Pengunjung hari ini : 14
Total pengunjung : 34067
Pengunjung Online: 5


